oase itu bernama LPDP,

dalam ilmu geografi, oasis atau oase adalah suatu daerah subur terpencil yang berada di tengah gurun, umumnya mengelilingi suatu mata air atau sumber air lainnya | wikipedia

Mungkin analogi ini menjadi terlalu hiperbolis, namun ini lah yang nyata-nyata aku terjemahkan untuk LPDP, sebuah kelembagaan baru pengelola beasiswa negara, yang mana hampir setahun aku terlibat didalamnya. Sebagai seorang bermental bounty hunter, yang kubangun semenjak masa kanak-kanakku diantaranya dengan mengikuti banyak kompetisi, apapun itu. Maka jadilah pencarian beasiswa adalah kompetisi lanjutan yang kelak akan ku perjuangkan bagaimanapun caranya. Beasiswa ini sebenarnya peluru ke tiga yang aku tembakkan, karena sebelumnya seperti yang telah aku ceritakan padamu, aku telah gagal didalam dua mekanisme beasiswa lain. Bukankah seorang pemburu tak pernah tau kapan dia akan menemukan harta karun ?. Bahkan baru aku ingat, selagi menunggu wisuda aku sempat mendaftar di program beasiswa professional untuk manajemen yang digagas oleh Prasetya Mulya Business School dan kembali aku gagal, kali ini di tahapan test psikologi. Entah kenapa aku selalu tidak beruntung jika berhadapan dengan hal berbau psikologi, mungkin ada yang aneh dengan kejiwaanku.

if ‘Plan A’ didn’t work, the alphabet has 25 more letters! , ya setidaknya kalimat ini yang selalu membuatku bersemangat untuk kembali mencoba.

Continue reading “oase itu bernama LPDP,”

studi lanjut, beasiswa dan sebuah ikhtiar menuju perbaikan

1635

Education is the most powerful weapon which you can use to change the world – Nelson Mandela 1918-2013

Mengawali sebuah kebiasaan baik memang tidak mudah, aku pun yakin dirimu begitu. Namun pada akhirnya menulis adalah pilihan terbaik bagiku dan setidaknya ini lah jalan paling bermartabat untuk melawan lupa. Lupa bahwa aku cenderung lebih cepat melupakan memoar-memoar yang kadang terselip di hidupku, atau lupa yang sekedar tidak bisa mengingat serangkaian janji-janji yang kutasbihkan untuk diriku sendiri. Termasuk menulis, sesuatu yang seingatku sudah ingin aku lakukan sejak aku meyakini sesuatu bernama buku berasal dari kebiasaan seseorang untuk menulis. Andai kata boleh berlebihan maka tidak etis untuk tidak mencatut sebuah quote dari Ulama Besar Islam

Jika Kau Bukan Anak Raja Dan Bukan Anak Ulama Besar, Maka Menulislah. – Imam Ghazali 1058-1111

maka jadilah menulis aku usahakan untuk tidak menjadi barang tabu dalam hidupku kedepan. Tulisan pertamaku akan kuusahan menarik, atau setidaknya memberi manfaat bagimu. Bagimu yang sedang dilanda kegalauan, bagimu yang saat ini sedang berada di garis kemapanan, atau barangkali bagimu yang hanya sekedar ingin tau tulisan resmi pertamaku. Ketika aku menulis tulisan pertamaku ini ketahuilah bahwa aku sedang dilanda sedikit kebosanan menjelang keberangkatanku untuk melanjutkan studi, di sebuah negara yang mendapat predikat negeri matahari tidak pernah tenggelam karena adidayanya, Inggris. Sesuatu yang setahun yang lalu masih menjadi misteri , mimpi sekaligus doa yang tiap saat aku sempatkan mengingat untuk bisa menjadi nyata. Bagaimana cerita perjuangan tentang  hal ini akan ku bagi padamu di bagian tulisan yang berbeda.

Continue reading “studi lanjut, beasiswa dan sebuah ikhtiar menuju perbaikan”