ada butiran doa di setiap selfie, sebuah catatan kunjungan Jokowi dan para Menteri

 

do not judge the book by its cover

do not judge the selfie before you try!

CgkoePXWMAAJBZy

Saya jadi sadar kenapa pada akhirnya seorang Agus Mulyadi, yang di masa mudanya sempat dikenal si raja selfie bareng artis sehingga menjadi amat fenomenal seperti sekarang. Meskipun pada kenyataanya dia harus mengerahkan segenap jiwa dan raganya untuk memodifikasi hasil foto bareng artisnya agar terlihat alami.

Atau barangkali belajar dari kasus selfie yogya yang popular di media beberapa bulan lalu, dimana kita harus kembali berterimakasih pada kosa kata selfie yang menjadi headline banyak status social media saat itu. Karenanya lah kita tau Indonesia masih punya tempat yang harus dijaga.

Selfie sebuah kata yang dinobatkan oleh The Oxford Dictionaries sebagai Word of the Year 2013 lagi-lagi menarik perhatian saya. Keberadaanya terkadang menjelma seperti halnya mantan, resah untuk dipikirkan, tapi tetap saja berulang kali kita meng-kepoinya. Dalam hal ini selfie mungkin lebih dasyat, ketika kita sendiri mawas diri dan mengkritiknya. Namun pada kenyataanya kita akan dengan senang maupun berberat hati melakukannya.

Continue reading “ada butiran doa di setiap selfie, sebuah catatan kunjungan Jokowi dan para Menteri”

melihat lagi informalitas dan mata pisau penggusuran di Indonesia

01A

melihat lagi informalitas dan mata pisau penggusuran di Indonesia.

Wacana penggusuran dan konflik lahan di ranah informal kembali mengemuka kembali menghiasi headline-hedline utama di berbagai media massa baik online maupun offline. Keberadaanya hadir dan menguat ditengah isu politik dan juga pemilihan kepala daerah. Informal dalam pengertian sederhana KBBI berarti sesuatu yang tidak resmi. Di Indonesia informalitas bisa menyentuh banyak hal dari mulai pekerjaan, status, hunian, dan bahkan kependudukan. Sayangnya, analogi informal acapkali disandingkan dengan kondisi yang tidak layak, kumuh, dan kemiskinan.

Informalitas di Indonesia hari ini, apalagi berkenaan dengan kependudukan masih dianggap sebagai “sampah”, entitas yang harus disingkirkan jauh dari pusat kota. Kota yang katanya didesain untuk selalu bertransformasi kearah yang lebih baik. Kota yang mungkin akan jadi lebih menyenangkan jika akhirnya banyak bangunan tinggi berdiri, area taman hijau dimana-mana, dan keberadaan shopping center mewah yang bisa jadi arena kekinian bagi anak muda. Untuk kepentingan itulah terkadang proses penggusuran yang kembali booming saat ini kembali menuai kontroversi.

Namun, terkadang kita lupa informal juga punya hak untuk kota. Mereka hadir mengisi pos-pos yang tidak mengenakkan di kehidupan harian kita sebagai warga kota. Banyak dari mereka berprofesi sebagai tukang sampah, pemulung, tukang cuci, pengamen, pekerja serabutan, pedagang asongan, buruh dan lain sebagainya.

Kita juga lupa bahwa profesi ini adalah profesi yang selalu tidak diinginkan oleh masyarakat terdidik di kota megapolitan seperti Jakarta. Diakui atau tidak profesi ini lah yang lantas menjadi jawaban atas segala ketakutan kita akan hal-hal yang menjijikkan dan tidak kita inginkan. Dan secara tidak langsung kehidupan formal kita akan selalu berkaitan dengan keberadaan orang-orang yang tidak resmi ini.

Pertanyaan selanjutnya adalah mengapa lantas kita acuh saja ketika hak hidup orang-orang yang berpengaruh ini dikebiri?

Continue reading “melihat lagi informalitas dan mata pisau penggusuran di Indonesia”

Catatan Online Lecture IYOIN 10 April 2016

2nd-olec-iyoin-lc-solo

Tertanggal 10 April 2016 lalu, saya berkesempatan untuk membagi cerita tentang beasiswa, study abroad, dan semua hal tentang studi di luar negeri melalui sebuah platform bernama IYOIN (Indonesian Youth Opportunities in International Networking) http://iyoin.org/ . Sebuah NGO yang didirikan teman-teman muda di Malang, dan saat ini sudah mulai mengcover beberapa wilayah di nusantara. Sempat terpikir dulunya membuat sebuah platform seperti ini, dengan agenda rutin berupa seminar online yang memberikan iklim diskusi sharing knowledge yang tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Hal ini juga tidak lepas dari kegiatan di masa awal selesainya Persiapan Keberangkatan – LPDP Batch PK 21, dimana angkatan kami menggunakan platform online sosial media LINE untuk lebih mengenal satu sama lain melalui sebuah tajuk program “WEB-BINAR”. Di tiap bulannya kami rutin mengadakan program satu jam lebih dekat, dan juga sharing informasi mengenai apapun. Dimulai dari wacana nikah muda, IELTS, diskusi masalah Urban dan Arsitektur hingga ke pembahasan kesehatan. Sayangnya setelah sempat beberapa bulan menjadi rutinitas kami, kebiasaan ini mundur teratur dan kemudian menghilang begitu saja. Istiqomah memang susah nyatanya, apalagi disaat kami sudah memulai perkuliahan kami masing-masing. Terkadang menengok pembahasan di group angkatan saja sudah cukup susah. Tapi tenang saja bonding kita sebagai PK21 Cakra Buana masih tetap terikat seperti janji kami pada saat PK “Devoted21ndonesia”.

Online gathering seperti ini merupakan pendekatan yang tidak sepenuhnya baru, karena memang platform yang disediakan sudah ada dan banyak. Bermacam jenis social media dari whatsapp, line, telegram, facebookchat, sudah cukup familiar dipergunakan untuk mengkoneksikan individu-individu yang terpisah jarak dan waktu.

Continue reading “Catatan Online Lecture IYOIN 10 April 2016”