surat cinta untuk ibu saya

nel gimana hasilnya?

Alhamdulillah mi, reading listening dan writingnya lancar, speakingnya juga temanya nggak susah, tentang mimpi di masa depan,…jadi untuk yang kali ini nelza yakin bisa tembus, doakan saja ya mi.

Jawab saya dengan sangat amat meyakinkan di kesempatan kedua uji kemampuan bahasa. Saat itu sudah kali kedua saya menjalani test kemampuan Bahasa. Sudah jenuh rasanya tiap hari berlatih dan berurusan dengan materi-materi yang selalu sama. Di sebuah kota kecil bernama Pare, saya memulai meng-enolkan kemampuan bahasa asing saya lagi. Belajar memperbaiki kemampuan bahasa asing saya, yang sebenarnya juga tidak seberapa saya mendalaminya. Keputusan berpacu dengan waktu, dengan resiko untuk batal sekolah di luar negeri juga saya ambil saat itu. Itu kali kedua, tabungan sisa bekerja di ibukota juga semakin terkuras saja. Ah memang perjuangan itu selalu menyisakan banyak cerita.

Dan pengumuman itu pun datang, berbekal rasa percaya diri yang terlampau tinggi saya menatapnya dengan penuh keyakinan. Kegagalan di kesempatan pertama agaknya memberi pelajaran yang amat berarti. Saya menyiapkan diri sebulan lagi, sebulan setelah saya menerima hasil yang nyaris selesai di kesempatan pertama. Tapi untuk syarat administrasi, nyaris saja tidak akan pernah cukup, itu sudah harga mati.

dan lalu,

Continue reading “surat cinta untuk ibu saya”

(bukan) tentang tips and trick interview LPDP, dan lima hipotesa

“ Jika anda diibaratkan menjadi sesuatu, maka anda ini seperti apa mas? “

[saya terdiam beberapa saat, pertanyaan yang sepenuhnya tidah saya duga akan saya dapatkan hari itu]

Seperti air bu, saya tidak pernah tau bagaimana hidup saya kedepan, saya hanya berusaha melakukan yang terbaik dimanapun takdir menempakan saya. Jika saat ini saya bekerja maka saya akan menjalaninya dengan usaha semaksimal mungkin, demikian halnya hari ini di proses mengejar beasiswa dan mimpi melanjutkan sekolah, maka saya akan menjalaninya dengan usaha yang maksimal pula – Jakarta, Juni 2014 –

HS2434

Juni di tahun 2014, saya masih mengingat suasana ruang di Universitas Negeri Jakarta saat itu. Ruang yang cukup besar untuk saya beradu nyali sekali lagi, kali ini perihal mimpi untuk dapat bersekolah lagi. Jakarta hari itu seperti biasanya riuh penat dan penuh dengan energy yang seakan tak terbatas. Agaknya hari itu jauh dari kata biasa, saya juga masih bisa mengingat kemeja coklat yang saya kenakan satt itu berikut celana formal-outdoornya dengan warna senada. Entah kenapa saya merasa kemeja itu menjadi kemeja keberuntungan saya, setelan yang sama ketika saya gunakan ke luar negeri untuk pertama kalinya.

Sejak terpublikasinya tulisan saya yang pertama mengenai ikhtiar beasiswa, dan hal-hal mengenai LPDP. Serta beberapa kali saya berkesempatan memberikan informasi beasiswa, termasuk didalamnya menjadi mentor di kelas online mengenai belajar diluar negeri. Maka seiring dengan hal-hal itu pula pertanyaan dengan topik “tips and trick” mengalir dengan derasnya baik secara langsung maupun tidak. Saya sendiri kebingungan untuk menjawab pertanyaan sejenis ini. Bukan berarti saya tidak mau menjawab, tapi kecurigaan saya apa memang benar ada semacam tips dan trick untuk mendapatkan beasiswa. Pada akhirnya saya melakukan riset kecil melalui mesin pencari google dengan kata kunci tips and trick interview lpdp, dan hasilnya mengejutkan keyword ini menyentuh hamper angka satu juta pencarian. Angka yang luar biasa banyak jika di banding pencarian kata nelzamiqbal (halah).

Continue reading “(bukan) tentang tips and trick interview LPDP, dan lima hipotesa”

tentang Probolinggo Hitz, dan menghitz-kan Probolinggo

Pernahkah anda ditanya darimana anda berasal? dan lalu kesulitan untuk menjelaskannya. Mungkin bukan semata-mata itu perihal tidak dikenalnya daerah asal anda. Tetapi juga background nomaden keluarga anda yang membuatnya sulit untuk dijelaskan. Pada saat saya mengahapi pertanyaan speaking IELTS bagian pertama, pertanyaan ini juga muncul tanpa diduga:

would you mind to tell me about your home town?

It’s a bit complicated, I was born in Sidoarjo but I just had my first and second year in that town. Then my family moved to Probolinggo, it’s a small city compare to Sidoarjo, and I spent my childhood times there until I graduated from my Senior High School. After all, I continue my study in Malang to obtain my bachelor’s degree, even though when I was so young my mother also brought me in Malang for a few years. See? It’s hard to tell what my home town is, but I would prefer to explain about Probolinggo,…..jawab saya ketika itu.

Dilain sisi premise pertama mengenai ke tidak terkenalan kota asal, saya dapatkan pada saat berkesempatan untuk berkehidupan di luar negeri. Selalu ketika ada teman atau orang lain bertanya, nelza where are you from? Saya selalu memulainya dengan It’s hard to explain, because normally people just recognise Bali and Jakarta. So It is Probolinggo,….kemudian saya mencoba menjelaskan bagaimana Probolinggo itu. Tetapi ada juga kejadian mengejutkan ketika seorang teman yang tiba-tiba bertanya dengan penuh semangat, Nelza you have to guide me to Bromo Mountain , it’s so wonderful….How do you know that (tanya saya)? Sedang pertanyaan ini muncul dari teman saya yang belum pernah sama sekali menanyakan atau mengetahui perihal home town saya. Dia lantas melanjutkan pertanyaan,..Are you from Probolinggo , aren’t you? . Wah dia bisa tau dari mana saya berasal sebuah hal yang mengejutkan bagi saya, dan jadi ge-er dikit kan. Tapi itu juga tidak berlangsung lama, karena saya juga sadar sempat menuliskan from probolinggo di profile facebook saya. Hmm , bule-bule ini kepo juga ya ternyata?

Continue reading “tentang Probolinggo Hitz, dan menghitz-kan Probolinggo”

London, (un) London, (re) London, refleksi satu tahun

Mengawali sebuah kebiasaan baik memang tidak mudah,

Namun pada akhirnya menulis adalah pilihan terbaik bagiku

Dan setidaknya inilah jalan paling bermartabat untuk melawan lupa

 

Agustus 2015,

 

Akhirnya setahun sudah blog ini mengangkasa, setahun…. Iya setahun yang sungguh tidak berasa,

setahun yang berjalan begitu cepatnya dan tanpa diduga-duga. Masih segar di ingatan saya, blog ini diinisiasi untuk menjawab kegelisahan saya untuk menuangkan memori, ide, keluh dan kesah, atau apapun itu kedalam bentuk tulisan yang terdokumentasi meskipun nyatanya sampai saat ini saya tidak jua merasa pandai merangkai kata. Namun kembali lagi, sebagai upaya melawan lupa bolehlah saya sedikit mengapresiasi blog saya ini. Setidaknya dalam sebulan, ada saja tulisan yang sudah saya publikasi. Terlepas isi dari tulisan itu menarik atau tidak, paling tidak saya sedang berusaha memenuhi janji saya sendiri.

 

fa421e07-45c2-4e36-9520-9a9c6d723a68

Hari ini Agustus 2016, setahun yang lalu saya memulai tulisan saya tentang ikhtiar untuk study lanjut dan segala hal mengenai beasiswa. Setahun yang lalu saya memulai tulisan saya di halaman depan rumah saya di sudut Kota Probolinggo, ditemani pekik suara ayam dan sesekali bising jalanan yang acapkali dilewati kendaraan roda dua. Sangat kontras dengan kondisi setahun lalu, hari ini saya berada di situasi yang sangat berbeda, duduk di sebuah kereta antar kota penghubung Birmingham dan Ibukota Britania Raya. Namun uniknya masih ada sedikit persamaan diantara keduanya, kebetulan saja pemandangan kiri dan kanannya mengingatkan saya pada sawah-sawah di kota tempat tinggal saya.

Continue reading “London, (un) London, (re) London, refleksi satu tahun”