London, (un) London, (re) London, refleksi satu tahun

Mengawali sebuah kebiasaan baik memang tidak mudah,

Namun pada akhirnya menulis adalah pilihan terbaik bagiku

Dan setidaknya inilah jalan paling bermartabat untuk melawan lupa

 

Agustus 2015,

 

Akhirnya setahun sudah blog ini mengangkasa, setahun…. Iya setahun yang sungguh tidak berasa,

setahun yang berjalan begitu cepatnya dan tanpa diduga-duga. Masih segar di ingatan saya, blog ini diinisiasi untuk menjawab kegelisahan saya untuk menuangkan memori, ide, keluh dan kesah, atau apapun itu kedalam bentuk tulisan yang terdokumentasi meskipun nyatanya sampai saat ini saya tidak jua merasa pandai merangkai kata. Namun kembali lagi, sebagai upaya melawan lupa bolehlah saya sedikit mengapresiasi blog saya ini. Setidaknya dalam sebulan, ada saja tulisan yang sudah saya publikasi. Terlepas isi dari tulisan itu menarik atau tidak, paling tidak saya sedang berusaha memenuhi janji saya sendiri.

 

fa421e07-45c2-4e36-9520-9a9c6d723a68

Hari ini Agustus 2016, setahun yang lalu saya memulai tulisan saya tentang ikhtiar untuk study lanjut dan segala hal mengenai beasiswa. Setahun yang lalu saya memulai tulisan saya di halaman depan rumah saya di sudut Kota Probolinggo, ditemani pekik suara ayam dan sesekali bising jalanan yang acapkali dilewati kendaraan roda dua. Sangat kontras dengan kondisi setahun lalu, hari ini saya berada di situasi yang sangat berbeda, duduk di sebuah kereta antar kota penghubung Birmingham dan Ibukota Britania Raya. Namun uniknya masih ada sedikit persamaan diantara keduanya, kebetulan saja pemandangan kiri dan kanannya mengingatkan saya pada sawah-sawah di kota tempat tinggal saya.

Ah, setahun itu ……sekali lagi sungguh-sungguh tidak terasa.

Tidak banyak yang ingin saya ceritakan di postingan setahun bertambah usianya web-blog ini. Tetapi yang perlu digaris bawahi ketika agustus sudah menampakkan diri, maka hal itu berarti tinggal sebulan lagi saya berada di negara ini. Sebulan lagi yang mungkin akan berasa lebih cepat lagi, karena kebetulan selain sedang berlarian mengejar kebutuhan disertasi, saya sedang melakukan persiapan ibadah ke tanah suci, dan juga internship singkat di Osaka-Jepang pasca masa studi. Semuanya bertumpuk dan tumpang tindih jadi satu, seolah saling tarik-menarik meminta untuk diperhatikan. Dan juga saya juga baru sadar, saya belum sepenuhnya menikmati kota ini, London.

Kota yang menurut Samuel Johnson

– when a man is tired of London, he is tired of life: for there is in London all that life can afford -.

Agaknya, kehidupan didepan layar tiga belas inchi satu dua bulan belakangan ini memang menyita apapun saja dalam hidup saya. Bahkan karenanya penyakit jenuh dan malas saya juga ikut-ikutan meminta diperhatikan. Tapi begitulah disertasi, suka atau tidak ini harus diselesaikan dan disudahi secepatnya. Seberat apapun tekanan dan halangan yang tersaji, produk tulisan ini adalah bukti tanggung jawab saya terhadap ibu pertiwi. Maka dari itu semua cerita dibalik perjalanan master dan dissertasi ini sungguh akan sangat tak ternilai harganya, cukup berharga rasanya untuk saya ceritakan kembali kepada keluarga masa depan saya suatu saat nanti.

Ngomong-ngomong, hari ini Tuhan sepertinya lagi berbaik hati (dan memang selalu begitu) , tuhan sedang menghadirkan takdir yang menarik saya, untuk melakukan perjalanan pulang pergi ke kota Birmingham. Sengaja melepaskan diri dari disertasi dikarenakan penantian masukan dari pembimbing disertasi yang tak jua kunjung diberi. Tidak disangkanya hal ini malah menjadi titik balik saya untuk berefleksi (lagi), apa yang sudah, sedang, dan akan saya lakukan saat ini ?. Pemaparan materi demi materi yang tersaji dalam rangkaian The Talk PPI UK cukup memberi penyegaran bagi suasana mental, prasangka, dan daya juang saya yang memang belakangan ini juga sedang dalam kondisi tidak baik.

Satu dari banyak hal yang saya menarik bagi saya di sore itu adalah mention singkat dari seorang pemateri perihal Adam Smith. Ya, itu Adam Smith, orang yang disangka-sangka sebagai Bapak Kapitalis Dunia. Namun kali ini bukan teori ekonominya yang menarik perhatian saya. Lebih jauh lagi ini tentang pendapatnya bahwa kepercayaan pada Tuhan akan menempatkan manusia dalam “additional tie”.

“ A belief in God puts man under an additional tie “ . Sesuatu yang mengingatkan saya lagi, bahwa Tuhan menempatkan saya di situasi ini bukanlah suatu kebetulan. Dibalik kebuntuan tesis, susah dan payah nya bekejar-kejaran dengan setumpuk bacaaan yang tak jua kunjung selesai, juga tentang drama kehidupan yang silih berganti itu semua seolah menyiratkan makna bahwa Tuhan sedang mengajak saya berbicara. Adam smith lebih lanjut juga menyatakan “ God had arranged things in nature to maximize human happiness, and that it is reasonable for us to believe that we participate in His plan when we follow our natural tendencies “.

Ah sial memang belakangan ini saya terlalu sering tidak menikmati semua proses ini. Kadang terlalu bersemangat merencanakan banyak hal, tetapi lupa menikmati apa yang sudah ditetapkan. Lupa jikalau kita menjalani ketetapan tuhan, disitu kita akan mendapatkan kenikmatan. Dan lagi-lagi mungkin ini adalah cara Tuhan menegur saya yang masih seringkali saya nomorduakan. Akibatnya, saya jadi terjebak oleh prasangka-prasangka yang saya buat sendiri, kesusahan dan kerumitan yang saya legitimasi sendiri, ketidak puasan dan kediaman yang saya sahkan sendiri. Padahal di penghujung kuliah saya ada kesimpulan yang menarik dari keseluruhan proses belajar kami selama setahun.

DESIGN vs (un) DESIGN dan LEARNING vs (un)LEARNING

Bagitu eratnya proses ke (un) -an ini menjadi hal penting bagi proses aktualisasi diri dewasa ini. Dia mengawal kita untuk senantiasa berubah namun tidak lupa melihat kembali lagi dan lagi. Sesuatu yang memberi pemaknaan bahwa sampai kapanpun kita tidak pernah menjadi seorang expertise dan sempurna dalam hal apapun. Proses ini pula yang kemudian membawa kita pada suatu derajat dimana kita menjadi tidak terlalu cepat jumawa bahkan juga menderita. Dia akan hadir mengisi kebuntuan dan kekosongan batin ide dan pemahaman, untuk kemudian membuka lembaran baru yang mungkin lebih menyenangkan.

Baiklah ini memang pemasalahan sudut pandang, additional tie memang ujungnya persoalan bagaimana seseonag mau berfleksi dan selalu beranggapan baik terhadap takdir tuhan. Yang pada akhirnya saya jadi disadarkan, bahwasanya memang saya yang nggak sabaran. Tidak sabaran untuk bermalasan, tidak sabaran untuk bersenang-senang, tidak sabaran untuk menikmati hasil sebelum merangkai perjuangan. Sampai kemudian disadarkan oleh waktu yang tersisa kurang dari sebulan.

Ya kehidupan London bagi saya akan berakhir sebentar lagi. Saya tidak tau kapan lagi saya bisa menikmatinya dalam jangka waktu yang lama lagi. Sebulan ini biarlah berjalan perlahan, paling tidak saya mempersepsikanya begitu. Karena sungguh saya berharap bisa lebih menikmati segala proses didalamnya. Hiruk pikuk london dan cerita didalamnya yang hampir setahun saya coba untuk mepelajarinya. Ah, barangkali untuk kali ini saya harus bersiap meng-un London kan diri saya, meskipun saya juga akan selalu bersiap untuk me-re London kan pemahaman saya tentang semua memori di kota ini.

Alhamdulillah sekali lagi London membuat saya semakin mengenal Tuhan.

Advertisements

One thought on “London, (un) London, (re) London, refleksi satu tahun

  1. Membaca tulisan ini lantas memunculkan sebuah kekhawatiran baru untukku, khawatir untuk terus ketagihan menanti tulisan2 lainnya.
    Good writing (as always), Good perspective, Good life-capture. Stay creative !!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s