wanita di garis depan permukiman informal ASIA

so, why you think that women are the frontline in the slum upgrading in Cambodia?

Because women are strong, especially in ASIAN, we cannot deny it,

Maurice Leonhardt , Asian Coalition of Human Rights (ACHR)

and everyone laughing and clapping

Sebuah jawaban yang seketika membuat beberapa teman saya kaget, dan sedikit heran. Terutama mereka yang memiliki kefanatikan di sudut pandang feminism. Barangkali berlaku juga buat anda yang berpendapat sama perihal kasus #dipasungsemen ibu-ibu rembang. Sehingga sempat memunculkan tanggapan dari seorang “cinta” aka Dian Sastrowardoyo yang mempertanyakan kemana bapak-bapaknya? Hai bapak-bapak kamu JAHAT,masa ibu-ibu yang harus dipasung berpanas-panas ria!. Ironi memang, tapi jangan marah dan sampai hati boykot filmnya, karena lantas pernyataan ini diklarifikasi lagi di kemudian hari.

Maurice, bukan orang baru di persoalan slum upgrading, bersama sejawat generasinya uncle ini mendirikan ACHR yang lebih dari 25 tahun lalu berdiri. Beliau cukup veteran untuk persoalan slum upgrading, terutama di wilayah Asia. Sehingga pernyataannya di 3rd International Workshop of City-Wide Upgrading di Kamboja, saya yakin bukanlah pernyataan yang spontas terlintas, tapi memang begitu adanya.

DSCF9086

Sempat terjadi diskusi yang cukup alot dengan beberapa teman wanita, terutama yang memang berpikir bahwa fighting the right itu adalah tanggung jawab bersama. Kenapa kita harus be-romantisasi dan menekankan bahwa semuanya adalah urusan wanita?.

Ah, mungkin inilah yang dimaksud pola pikir deduktif dan induktif dalam membaca realita. Ya, pada umumnya manusia mempunyai kesadaran empiric saja, dia akan bertumpu pada apapun yang dia lihat dan dia dengar. Nyatanya akan selalu ada teks dibalik konteks. Hal ini lantas menjadikan arsitektur dan kota bukan hanya sesusatu yang nampak, tetapi akan selalu ada dinamika meta-empirik didalamnya.

Secara ringkas hal ini mungkin bisa disederhanakan menjadi sebuah narasi atau cerita dibalik peristiwa, dan itu sudah seharusnya berjalan terpadu sehingga diperolehlah pemahaman yang holistic dan massif.

Wanita di peradaban Asia, setidaknya sepanjang sepengetahuan saya memang mempunyai power yang sangat kuat dan luar biasa. Di Jawa, mungkin kita familiar dengan istilah “konco wingking”, yang kemudian popular dengan istilah selalu ada peran luar biasa dari wanita dibalik tangguhnya pria. Dan jika anda mengingat masa kecil anda, pasti pernah berpengalaman mencari sesuatu dan menyangka itu 100% tidak anda temukan. Namun nyatanya ibu anda dengan mudahnya menemukan barang yang anda cari, bukan begitu?

Wanita dan lingkungan seakan menjelma menjadi sebuah rectoverso. Mereka seolah dipisahkan oleh ruang gerak dan waktu dalam keseharian mereka. Dalam peran mereka sebagai istri, ibu, cleaner, koki, guru, entertainer, pendongeng dan lain sebagainya. Padahal sejatinya wanita dan lingkungannya adalah sebuah kesatuan yang memang tidak bisa dipisahkan.

Paling tidak hal itu nyata adanya, dan saya buktikan sendiri ketika kami mengunjungi sebuah komunitas unik di Kamboja. Sebuah kompleks hunian informal, yang hidup dan berkehidupan ditengah kompleks pemakaman Cina dan Vietnam. Komunitas Smorsan, adalah nama komunitas yang telah lama beradu nasib dengan hal “ghaib”. Masih jelas ingatan saya ketika salah satu warga dalam dialog singkat berkata “ghost is better than living in forest”, terdengar menyeramkan sepertinya.

DSCF9007

Kembali lagi ke persoalan wanita di garis terdepan perubahan. Disini saya berkesempatan bertemu dengan Meneth, ibu dua anak yang juga merangkap menjadi salah satu pemimpin komunitas ini. Saya suka sekali dengan semangatnya, dia hadir di tengah2 proses pembelajaran kami sebagai penikmat ruang amatiran. Yang begitu amatirnya, bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana hidup berdampingan dengan makam, menggunakan nisan sebagai alas tidur, tempat masak, bahkan fondasi bangunan rumah? Sebuah profanation sempurna dari teori klasik yang dibawakan Agamben.

DSCF9307

Maneth menjelaskan dengan detil bagaimana kondisi tempat tinggalnya, ancaman lingkungan dari sampah, cuaca, dan bencana, problematika legalitas, hingga memimpin diskusi bersama warga lainnya. Sesekali dia nampak sibuk menggendong putri kecilnya selagi menjawab semua pertanyaan kami yang memang tidak tau apa-apa.

Maneth dan kelompok wanita sejawatnya (mungkin) adalah realita nyata eksistensi wanita Asia di masalah pengembangan permukiman informal. Mereka tidak diam saja menunggu suaminya yang bekerja di perbatasan negeri tetangga, dan memilih berbuat sesuatu terhadap lingkungannya. Inisiatif nya menggerakkan tabungan bersama, adalah aksi nyata bagaimana ibu-ibu ini menciptakan ruang social diantara keterbatasan ruang fisikal yang ada.

DSCF9107

Inisiatif ini bagi saya bukanlah hal baru, karena di Indonesia-pun perihal kumpul-mengumpulkan uang bersama sudah menjadi tradisi klasik yang terbingkai dalam kegiatan rutin bernama “arisan”. Meskipun arisan sendiri terkadang sudah bergeser kepada sesuatu yang posh , atau berakhir pada gossip tetangga belaka.

Namun apapun itu saya masih percaya bahwa wanita asia memang special dan luar biasa. Kepekaan nya terhadap ruang, barangkali lebih advance dari ahli spatial bergelar professor sekalipun. Mereka sangat memahami lingkungan mereka dan sangat mungkin melebihi suaminya. Kepekaan yang kemungkinan besar mereka bangun dari sisi alter-ego mereka yang lebih dari sekedar hanya istri atau ibu belaka.

Jadi pernyataan Maurice diawal tulisan ini, mungkin sangatlah masuk akal. Paling tidak cobalah lebih tajam menganalisa istilah angon kebo, dimana sing angon itu ada di belakang kebo. Walau kebonya ada di depan, tapi yang berkuasa adalah yang angon, yang ada dibelakang. Dari sini cukuplah masuk akal bagaimana istilah ini bekerja “selalu ada peran luar biasa dari wanita dibalik tangguhnya pria”, dan siapa yang “sebenarnya” kuat.  

 

Advertisements

One thought on “wanita di garis depan permukiman informal ASIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s